Matoa (Pommetia Pinnata)

Mungkin masih belum banyak yang mengetahui jenis tanaman ini. Memiliki nama Latin Pometia pinnata atau biasa disebut matoa, tanaman khas Papua ini menjadi flora identitas Provinsi Papua Barat.

Pada tahun 2012 nama matoa mulai mencuat dan mendadak jadi buah bibir dengan hadirnya eco watch dan mengeret nama Matoa sebagai nama brand produk lifestyle asli. Jam tangan kayu itu memanfaatkan hasil limbah kayu matoa, Wah keren, itu baru limbahnya apalagi buahnya.

Baiklah, kembali ke Pohon langka ini, matoa mulai berproduksi setelah mencapai tinggi 5 meter. Pohon Matoa memiliki dimensi lebar besar dengan diameter yang bisa mencapai 100 cm dan tinggi lebih dari 20 meter.

Tanaman matoa memiliki ciri buah berbentuk bulat lonjong dengan diameter 1 sentimeter (cm) hingga 3 cm. Kulitnya berwarna merah kehitaman bila sudah matang.

Tak sedikit yang telah mencicipi buah ini bilang, rasa buah matoa seperti campuran rasa rambutan, durian, dan kelengkeng.
Buahnya dipercaya punya banyak manfaat, seperti menjaga daya tahan tubuh dan bisa meningkatkan kelembapan kulit lantaran kaya kandungan vitamin C dan E.

Budidaya


Pembibitan melalui biji, Pilihlah biji dari buah yang bagus, kemudian cuci dengan air bersih. Biji yang bagus adalah ketika biji di rendam air.Lalu jemur agar biji tidak busuk,tetapi jangan sampai terlalu lama karena nanti khawatir tidak bisa lagi tumbuh.

Media tanam

Siapkan polybag, isi dengan tanah dan pupuk, bisa pupuk kandang ataupun kompos lalu benamkan biji kedalam polybag.
Tempatkan polybag yang sudah ditanami biji buah matoa ditempat yang teduh. Matoa lebih membutuhkan banyak siramlah tiap hari.
Jika sudah tumbuh, siapkan polybag yang berisi tanah dan pupuk lagi kemudian pindahkan tunas ke polybag baru.
Begitu seterusnya sampai usianya mencapai 5 bulan, baru setelah itu di pindahkan ke lahan perkebunan.
Buah Matoa bisa di tanam di dalam pot, biasanya pot yang dimaksud adalah drum tempat bekas minyak, akan tetapi hasil buahnya relatif sedikit.

3. Pencangkokkan
Pilihlah pohon yang buahnya manis dan banyak, lalu buatlah sayatan melingkar pada dahannya, sayatan fungsinya untuk menghilangkan kambium.
Setelah itu bungkus sayatan itu dengan tanah atau sabut kelapa.
Tunggu sampai akarnya tumbuh, sesudah akarnya tumbuh, kamu bisa merumahkannya ke polybag kemudian setelah pohon matoa muda itu siap,bisa dipindahkan ke lahan yang lebih luas bisa di pekarangan rumah.
Umumnya dengan hasil cangkok, panen dapat dilakukan setelah 4 tahun dari masa pencangkokkan.

Peluang dan Potensi Pasar

Salah satu pembudidaya serta penjual buah matoa yaitu Arif Rabani di Kudus, Jawa Tengah menceritakan keuntungan yang didapat ketika panen buah matoa hanya pada saat tertentu, lantaran panen buah ini hanya pada bulan Oktober hingga November tiap tahun.

Ia menanam pohon buah matoa di atas lahan 800 meter. Menurutnya waktu panen bisa sampai lebih dari satu tahun. Namun, setelah panen perdana, tiga bulan setelahnya bisa panen untuk kedua kalinya.

Tak hanya membudidayakan tanaman dan menjual buah, Arif juga juga menjual bibit tanaman matoa yang berukuran sekitar 50 cm hingga 1 m. Harga jual bibit sebesar Rp 15.000 per batang.

Arif bilang, pada masa panen, umumnya konsumen yang membeli buah matoa adalah pengepul yang akan mendistribusikannya ke produsen di minimarket.
Dengan memiliki lahan budidaya seluas 800 m², dia bisa menghasilkan sekitar 500 kilogram (kg) buah matoa sekali panen. Dia menjualnya seharga Rp 30.000 per kg. Jika semua hasil panen ludes, Arief meraup bisa omzet senilai Rp 15 juta sekali panen.

Pembudidaya yang lain seperti Edi Sumulur asal Sidoarjo, memiliki lahan seluas 2.000 meter persegi (m²). Berbeda dengan Arif, Edi menanam tanaman khas Papua ini hanya untuk dijual bibitnya. Dia menjual bibit matoa di toko bibit tanaman miliknya di Sidoarjo melalui gerai miliknya Agro Sidoarjo.

Bibit itu juga ditawarkan lewat toko online.  Satu batang bibit dibanderol Rp 25.000 hingga Rp 150.000, tergantung ukuran.Bahkan di beberapa e-commerce untuk usia  bibit sudah mencapai empat bulan dengan tinggi batang 30 cm dipatok harga mulai Rp 35.000 per batang. 

Pohon buah ini masih langka dan berpeluang besar, bayangkan saja untuk satu bibit dibanderol harga Rp 150.000-an, untuk bibit yang sudah berumur 1,5 tahun dengan ketinggian 1,5 m.

Memang untuk memasarkan dan menjual bibit butuh lahan dan pengorbanan, namun jika ingin berlatih membudidayakan buah ini, anda bisa menyambangi salah satu tempat wisata ini.

Jika anda  menyambangi Leuweung Geledegan Ecolodge yang berlokasi di Bogor Selatan ini beragam macam tanaman buah dan bunga langka beserta bibitnya tersedia bahkan Anda dan keluarga diajarkan bagaimana cara menanam dan merawatnya.

One thought on “Matoa (Pommetia Pinnata)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *