Mangga Kio Jay

Penampilan mangga kio jay memang menarik karena berukuran lebih jumbo dengan bobot hingga 2 kg.  Dengan warna kulit yang kuning kemerah merahan ” ajaib ” walau belum matang rasa buah ini manis, dagingnya tebal dan menyembur wangi segar.

Mangga kio jay merupakan mangga varietas baru asal Thailand. Varietas mangga ini mulai banyak dikenal di Indonesia ketika masuk era milenium.  

Habitat tumbuhnya di dataran rendah dengan cuaca panas, namun masih dapat tumbuh dengan baik pula di dataran tinggi apabila suhu rata-ratanya tidak terlalu rendah.

Pohon buah ini menyukai tanah gembur yang subur dengan drainase yang baik, curah hujan sedang, dan penyinaran matahari penuh sepanjang hari.
Di Indonesia belum banyak yang membudidayakan mangga ini padahal buah mangga kio jay termasuk bunga yang rajin berbuah (genjah).

Saat ini sebenarnya tidak begitu sulit menemukan bibit buah ini banyak lapak online yang menjual bibit mangga ini.  

Jika berhasrat untuk membudidayakan anda bisa mengunjungi  salah satu wisata edukasi di Bogor, Leuweung Geledegan Ecolodge. Di resort yang berwawasan lingkungan ini  tersedia beragam bibit buah langka yang mulai dilestarikan, anda pun bisa ikut melestarikannya di kebun rumah.

Peluang dan Potensi Pasar

Pepatah klasik berkata Siapa menanam maka ia yang menuai hasil. Bagi pembudidaya yang memandang bahwa buah langka memiliki potensi pasar yang besar adalah kenyataan pasar.
Seperti halnya William Soejokto, pembudidaya asal Jakarta menilai potensi bisnis mangga kio jay masih sangat besar. Apalagi bila dikembangkan untuk sektor pertanian, karena sampai sekarang belum ada petani yang mencobanya mangga jenis ini.
Sejak 2016 William diam-diam mulai membudidayakan dengan membeli 60 bibit kio jay dari seorang rekannya. Dari  60 pohon induk bibit kini menghasilkan ratusan bibit yang berusia tiga hingga empat bulan.
William bilang , peminat bibit buah jumbo ini cukup banyak permintaan sampai sekarang masih tetap tinggi. Dalam sebulan, dia pun bisa mengirim ribuan bibit ke lahan pembelinya.  
Pembudidaya yang mempunyai lahan di Jakarta Barat ini mematok harga jual bibit kio jay mulai dari Rp 50.000 untuk ukuran polybag 25 cm, Rp 75.000 untuk polybag berdiameter 35 cm, dan Rp 600.000 untuk pohon setinggi 2,5 meter dengan diameter batang 5-6 m.
Konsumennya merata dari Sabang hingga Merauke. Untuk pengirimannya, dia menggunakan jasa logistik udara, laut, dan darat.
Pembudidaya lainnya adalah Hasan Mustofa asal Majalengka, Jawa Barat. Dia mengatakan, meski sedang naik daun, penggemar tanaman ini masih terbatas pada perseorangan.

“Saya rasa petani enggan menanam mangga jenis karena belum ada pengepul yang mau menampung hasil panennya,” katanya.

Padahal saat mengetahui rasa buahnya yang enak dan ukurannya yang jumbo, siapa pun yang melihatnya pasti tertarik untuk membeli.

Pendeknya, dalam sebulan dia hanya dapat menjual sekitar ratusan bibit pohon untuk wilayah Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bogor, Lampung, dan Bengkulu.
Harganya pun dipatok mulai dari Rp 50.000-Rp 100.000 per polybag pohon tiga sampai empat bulan, Rp 2,5 juta untuk pohon setinggi satu meter dengan kondisi rindang alias banyak daun.

Saat ini dia memiliki sekitar 10 induk yang dikembangkan di area perkebunan Majalengka, Jawa Barat.    
Budidaya
Untuk pembibitan kio jay,  William menggunakan cara sambung susu. Alasannya, dengan teknik ini bibit lebih cepat siap untuk dijual bila dibandingkan dengan sambung pucuk yang harus menunggu hingga berusia tiga bulan.

“Kalau sambung susu dalam 1,5 bulan saja sudah siap. Namun, memang sih jumlah bibit yang dihasilkan tidak bisa sebanyak sambung pucuk atau tempel mata,”.

Untuk media tanamnya, dapat menggunakan tanah gembur yang dicampur sekam. Penyiramannya pun cukup dilakukan sehari satu kali atau saat tanah sudah terlihat kering.  

William menambahkan, pohon mangga ini sudah bisa berbuah saat berumur 1,5 tahun–2 tahun. Dia menyarankan untuk memanen buah sebelum masak pohon alias kurang dua atau tiga hari. Setelah itu, dibiarkan saja di atas meja atau tempat penyimpanan lainnya, supaya daging mangga tidak benyek saat dimakan.

Hasan Mustofa, pembudidaya lainnya asal Majalengka, Jawa Barat mengatakan bila tanaman ini perlu di pangkas secara berkala karena karakter pohonnya yang rimbun. Apalagi, saat musim hujan tiba. Karena bila dibiarkan, dapat mengundang kutu putih.

Berbeda dengan sebelumnya, dia mengembangbiakkan tanaman mangga ini dengan cara okulasi. Caranya dengan menggunakan batang mangga segala varietas untuk bagian bawah kemudian disambung dengan batang mangga kio jay sebesar sedotan.

Untuk perawatannya, cukup disiram sehari sekali dan pemupukan setahun sekali menggunakan pupuk organik atau pupuk yang berasal dari kotoran kambing. Sedangkan, untuk perawatan daun dan buah, dapat menggunakan campuran pupuk organik dan kimia yang diberikan dua kali sebulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *