Kecapi ( Sandoreum koetjape)

Nama buah ini memang unik, ada yang tau nggak kenapa dinamai Kecapi, kok namanya sama dengan alat musik petik khas tatar sunda ya ? Mimin juga belum meneliti. Mimin cuma nanya kok alias Cunako.

Baiklah, Buah Kecapi mempunyai keunikan buahnya bulat sedikit gepeng seperti telur terbalut bulu halus bak beludru berdiameter 5-6 cm, sebelum matang buah ini berwarna hijau kekuningan dan mulai matang ketika berubah merah.

Daging buah bagian luar tebal dan keras menyatu dengan kulit, kemerahan, agak masam, daging buah bagian dalam lunak dan berair, melekat pada biji, berwarna putih, rasa masam sampai manis.

Kecapi ada dua macam, yakni dengan daun tua sebelum gugur berwarna kuning dan yang berwarna merah. Dahulu, kedua varietas ini dianggap sebagai spesies yang berbeda (Sandoricum indicum berdaun kuning dan S. nervosum berdaun merah).

Kulit buahnya yang berdaging tebal kerap dimakan dalam keadaan segar atau dimasak lebih dulu, dijadikan manisan atau marmalade.
Buah kecapi dapat diolah menjadi manisan, “chutney”, selai, jelly “Marmelade”, 
Buah dapat diawetkan dalam hidangan dan juga sebagai pengharum alami.
Dari segi pemanfaatan Pohon Buah ini banyak diteliti oleh peneliti  dan industri farmasi. Salah satu Peneliti Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Barat menyebut pemanfaatan pohon buah kecapi multiguna salah satunya di industri obat-obatan.

Daun kecapi segar bila digosokkan ke kulit akan berguna sebagai peluruh keringat dan rebusannya dapat digunakan sebagai obat demam.
Serbuk kulit batangnya sangat mujarab untuk pengobatan  cacing gelang. Akar buah kecapi dapat dimanfaatkan sebagai obat anti diare, meredakan kekejangan, mengeluarkan angin dari perut, obat sakit perut (Tinggen,2000) dan penguat tubuh wanita setelah melahirkan.
Penyakit–penyakit yang dapat disembuhkan dari tumbuhan kecapi pada umumnya akibat infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Hal itu sebabkan karena tumbuhan kecapi mengandung senyawa yang mempunyai bioaktifitas antibakteri yang dapat mengahambat pertumbuhan bakteri Micrococus luteus dan Eschericia coli (Suartini,2006).

Tumbuhan kecapi juga memiliki senyawa kimia lainnya seperti flavanoid,saponin,dan polifenol,tetapi belum di ketahui senyawa mana yang menyebabkan tumbuhan kecapi memiliki bioaktivitas antibakteri (Djumidi,1997).
 Kulit batang kecapi mengandung senyawa yang bersifat anti fungi terhadap Candida albicans (Warsinah et al., 2011)

Kayu kecapi bermutu baik sebagai bahan konstruksi rumah (bangunan), bahan perkakas atau perabotan rumah tangga, kerajinan kayu,  dan peralatan lainnya. Kayunya mudah dikerjakan dan mudah dipoles.

Potensi &Peluang Pasar


Beberapa pembudidaya kecapi di berbagai daerah memiliki beberapa alasan mengapa kecapi di budidayakan. Asal tau saja, pangsa pasar buah ini tidak dianggap seksi, umumnya hanya diburu oleh kalangan kolektor atau hanya sebagai souvenir.

Diantara  pembudidaya itu Mahdi asal Purworejo, Jawa Tengah. Ia mengaku menanam dan membibit sesuai pesanan saja, ada yang dikirim ke Sumatera, Kalimantan hingga Sulawesi.  

Sejauh ini peminatnya  kebanyakan dari kalangan kolektor dan pehobi tanaman saja, mungkin buah ini kurang banyak banyak di publikasi jadi orang tidak banyak tahu, kata Mahdi

Pada pertengahan 2018 lalu, Dalam setahun mahdi hanya mampu menjual sekitar 500 bibit kecapi bangkok. Mahdi menjual bibit kecapi bangkok ini Rp 25.000 untuk bibit berukuran 30cm dan Rp 100.000 untuk bibit berukuran 1,5 meter, seperti yang dikutip kontan.co.id.

Meski lahan pembibitannya ada di Purworejo, namun penjualan bibitnya tak terbatas hanya di kota-kota sekitarnya atau seputar Jawa Tengah. Mahdi sudah mengirim bibit kecapi bangkok ini hingga Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi. Selain dari mulut ke mulut, dia juga melapak daring.
Penjual bibit kecapi bangkok lainnya adalah Puriyani Hasanah, seorang pembudidaya tanaman  asal Bogor, Jawa Barat.

Puri mengaku bisnis buah ini memang belum mencapai penjualan yang masif, namun permintaan dan yang mencari bibit selalu ada, jelasnya.
Ia mengaku tidak fokus untuk membudidaya hingga panen buah,  Puri mengaku membudidayakan tanaman hanya  untuk suvenir. bibit tanamannya dijadikan sebagai suvenir acara-acara spesial seperti pernikahan, ulang tahun, dan lainnya.

Puri mengaku hanya membibitkan tanaman ini saat ada pesanan dari konsumen. Dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menyiapkan tanaman.
“Biasanya konsumen sekali beli jumlahnya bisa ratusan karena untuk suvenir,” katanya. Untuk harganya di patok Rp 9.000 per bibit dengan ukuran 30 cm. Bila permintaan sedang tinggi, dia menjalin mitra dengan pembudidaya lainnya yang berada di Bogor.

Pelanggannya datang dari berbagai kota di wilayah Jabodetabek. Untuk menjaga tanaman tetap dalam kondisi bagus, pengirimannya pun menggunakan pick up atau kendaraan pribadi sang pembeli.     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *